Friday, 6 November 2015

MAKALAH Prinsip Perkembangan dan Teori Perkembangan Remaja


MAKALAH

Prinsip Perkembangan dan Teori Perkembangan Remaja






Disusun Sebagai Pelaksanaan Tugas
 Mata Kuliah Psikologi Remaja Ampuan Maulita Eka Santi, S.Pd.,M.A

Oleh :
1.      Patricia Dita Y                 (141434006)
2.      Maria Magdalena N         (141434030)
3.      Fransiska Agri M             (141434039)
4.      Febriani E Malo               (141434076)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015


PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat serta wawasan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Psikologi Remaja yang berjudul “Prinsip Perkembangan dan Teori Perkembangan Remaja”. Di dalam makalah ini ditulis berbagai informasi mengenai apa saja itu prinsip perkembangan dan teori perkembangan remaja.
Dalam menyusun makalah ini penulis mengucapakan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu serta memberikan semangat kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan :
1.      Dosen pembimbing, Maulita Eka Santi, S.Pd.,M.A.,yang memberikan pengetahuan serta arahan dalam penyusunan makalah
2.      Teman-teman pendidikan biologi 2014
3.      Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 9 September 2015

Penulis









DAFTAR ISI

PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ....................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C.     Tujuan .................................................................................................... 2
D.    Manfaat................................................................................................... 2

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Prinsip-prinsip perkembangan................................................................. 3
B.     Teori perkembangan ............................................................................... 5

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan............................                                                                                                 ......................................... ...............................................................13
B.     Saran.............................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................iii









BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masa remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial. Perkembangan remaja bersifat kompleks dan mempunyai banyak sisi. Banyak pakar yag merumuskan pengertian perkembangan yaitu suatu proses perubahan dalam diri individu yang bersifat kualitatif. Sama halnya dengan konsep perkembangan, maka pertumbuhan pun dibahas oleh banyak pakar.
Ciri – ciri remaja yang sedang berkembang cenderung digambarkan sebagai pemunculan tingkah laku yang negatif, seperti suka melawan, gelisah, periode badai dan tekanan, tidak stabil dan berbagai label buruk lainnya. Pada periode remaja situasi psikologis, fisiologis, dan budaya makin penting pengaruhnya terhadap perkembangan individu dibandingkan dengan perkembangan individu sebelumnya (anak-anak) atau pada periode perkembangan sesudahnya (dewasa). Terjadinya kegelisahan atau stres pada remaja karena sambutan lingkungan yang kurang menyokong. Budaya yang kacau menimbulkan kekacauan perkembangan emosi, sosial dan kognitif sehingga menimbulkan tingkah laku amoral.
Remaja memperlihatkan tingkah laku negative karena lingkungan yang tidak memperlakukan mereka sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan perkembangan mereka. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa tingkah laku negatif bukan merupakan ciri perkembangan remaja yang normal, tetapi remaja yang berkembang memperlihatkan kemampuan bertingkah laku yang positif.
Banyak teori-teori mengenai perkembangan remaja. Apabila ada yang beranggapan bahwa suatu teori itu dapat memberikan penjelasan yang tepat mengenai perkembangan remaja, teori lain akan segera muncul untuk memperbaiki teori sebelumnya.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.      Bagaimana prinsip-prinsip perkembangan?
2.      Apa saja teori perkembangan remaja?




C.    Tujuan

Tujuan dari makalahini untuk mendeskripsikan tentang :
1.      Prinsip perkembangan
2.      Teori-teori perkembangan remaja

D.    Manfaat

Makalah ini mempunyai manfaat yaitu agar mahasiwa lebih dapat memahami dan mengerti secara mendalam mengenai teori-teori dari para tokoh-tokoh psikologi maupun dari tokoh-tokoh filosof mengenai remaja dan dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam dirinya sendiri maupn orang lain.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Prinsip Perkembangan

1.      Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (Never ending process)
Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Perkembangan, baik fisik maupun psikis berlangsung secara terus menerus sejak masa konsepsi sampai menjapai kematangan atau masa tua.Jadi proses yang tidak pernah berhenti berarti perubahan maju, meningkat, mendalam atau meluas, baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis), contohnya terjadi perubahan pengetahuan dan kemampuan anaka dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks ( mulai dari mengenal huruf dan angka sampai kepada kemampuan membaca, menulis dan berhitung).
2.      Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Pada umumnya terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara aspek-aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti : kecerdasan dan emosinya. Begitu pula, apabila perkembangan spiritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan berkembang menjadi seorang yang berkarakter atau berkepribadian yang tidak baik.
3.      Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
Arah atau pola perkembangan pola itu dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977) :
a.       Cephalocaudal & proximal- distal. Maksudnya, perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki (cephalocaudal) dan dari tengah ; paru-paru, jantung, ke pinggir : tangan (proximal-distal)
b.   Struktur mendahului fungsi artinya bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi setelah matang strukturnya.
c.  Perkembangan itu berdiferensiasi maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus (spesifik)
d.      Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses dari suatu kemampuan berfikir yang konkret (objeknya tampak) menuju ke abstrak (objeknya tidak tampak)
e.  Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektifme, berarti bahwa mulanya anak hanya melihat atau memperhatikan dirinya sendiri sebagai pusat, tapi melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu berubah menjadi perspektivis (anak memilki simpati terhadap kepentingan orang lain)
f.      Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awalnya anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh pengontrolan dari luar seiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu mengontrol diri.
4.      Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat). Umpamanya (a) otak mencapai bentuk dan ukurannya yang sempurna pada umur 6-8 tahun; (b) tangan, kaki, dan hidung mencapai perkembangan yang maksimum pada masa remaja; dan (c) imajinasi kreatif berkembangan dengan cepat pada masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada masa remaja.
5.      Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas
Prinsip ini dapat dijelaskan dengan contoh sebagi berikut :
a.   Sampai usia 2 tahun, anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, mengusai gerak gerik fisik dan belajar berbicara
b.      Pada usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain).
6.      Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan : bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua(Yusuf, 2010).




B.     Teori-Teori Perkembangan Remaja

1.      Teori Psikoanalisis

Menurut teori psikoanalisis (psychoanalityc theory), proses perkembangan berlangsung secara tidak disadari atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat di warnai oleh emosi. Para ahli psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah merupakan karakteristik di permukaan. Pemahaman sepenuhnya tentang perkembangan hanya dapat dicapai melalui analisis terhadap makna-makna simbolis dari perilaku. Ada dua teori psikoanalisis, yaitu

a.      Teori Freud (1856-1939)

Mengembangkan teori psikoanalisisnya berdasarkan pengalamannya dalam menangani kehidupan mental pasien-pasiennya. Sigmund Freud mengumpamakan kehidupan psikis seseorang bak gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan laut, adapun bagian terbesar dari gunung terbesar dari gunung ini tidak tampak, karena terendam dalam laut. Kehidupan psiskis seseorang sebagian besar juga tidak tampak (bagi diri mereka sendiri), dalam arti tidak disadari oleh yang bersangkutan. Struktur kepribadian Freud (1917) menyatakan bahwa kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu id, ego dan superego.

 Id terdiri dari insting, yang merupakan persediaan energi psikis individu. Dalam pandangan Freud, id sepenuhnya tidak disadari; id tidak memiliki kontak dengan realitas. Ketika anak-anak mengalami berbagai tuntutan dan pembatasan realitas, muncul sebuah struktur baru dari kepribadian –ego, yang menangani tuntutan realitas. Ego  disebut juga “cabang eksekutif” dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional.
Id dan ego tidak mempertimbangkan moralitas keduanya tidak mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego adalah struktur kepribadian yang mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego sering kali kita juluki sebagai “hati nurani”. Freud berpendapat bahwa kehidupan remaja dipenuhi dengan ketegangan dan konflik. Remaja berusaha meredakan ketegangan yang dialami dengan cara memendam konflik tersebut kedalam pikiran yang tidak sadar.
Dalam pandangan Freud, ego harus menyelesaikan konflik antara tuntutan realitas, harapan id, dan pembatasan dari superego melalui mekanisme pertahanan. Ada dua hal penting tentang mekanisme pertahanan, pertama mereka tidak disadari; remaja tidak sadar bahwa mereka menggunakan mekanisme pertahanan untuk melindungi ego mereka dan mengurangi rasa cemas. Kedua, jika digunakan secara moderat atau sementara waktu, mekanisme pertahanan tidak berakibat negatif. Akan tetapi, individu sebaiknya tidak membiarkan mekanisme pertahanan mendominasi tingkah laku mereka dan mencegah mereka menghadapi tuntutan realitas.

Ketika Freud mendengarkan, menggali dan menganalisis pasien-pasiennya, ia menjadi yakin bahwa masalah mereka bersumber dari pengalaman-pengalaman di masa awal kehidupan. Menurut Freud manusia akan melalui lima tahap permulaan dari perkembangan psikoseksual dan di setiap tahap perkembangan individu memperoleh kenikmatan di suatu bagian tubuh tertentu.
o   Tahap oral (oral stage) adalah perkembangan yang terjadi pada usia 18 bulan pertama, dimana kesenangan bayi berpusat di sekitar mulut.
o   Tahap anal (anal stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 1,5 dan 3 tahun, di mana kesenangan terbesar anak meliputi anus atau fungsi pembuangan yang berhubungan dengan anus.
o   Tahap falik (phallic stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 3 sampai 6 tahun, kata phallus artinya penis atau alat kelamin laki-laki. Artinya kesenangan berpusat pada alat kelamin karena anak menemukan bahwa memanipulasi diri sendiri memberikan kesenangan.
o   Tahap latensi (latency stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 6 tahun dan pubertas, anak menekan semua minat seksual da mengembangkan keterampilan inteletual dan social.
o   Tahap genital (genital stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada masa pubertas. Pada masa ini adalah masa kebangkitan kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual yang adalah dari orang lain yang bukan keluarganya (Santrock, 2007).  

Revisi terhadap teori Freud
                                                           
                                   Teori ini telah mengalami revisi yang penting dari sejumlah ahli teori psikoanalisis. Dibandingkan dengan freud, sebagian besar ahli teori psikoanalisis kontenporer kurang menekankan peranan insting seksual namun lebih menekankan pada pengalaman budaya sebagai determinan- determinan dari perkembangan. Meskipun pikiran-pikiran yang tidak disadari memainkan peranan yang lebih besar dibandingkan yang digambarkan oleh Freud. Kaum feminis juga mengajukan kritik terhadap teori Freud. Selanjutnya, kita akan menguraikan gagasan-gagasan dari tokoh yang merevisi gagasan-gagasan Freud yaitu Erik Erikson.

b.      Teori Erikson (1902-1994)
Erikson mengatakan bahwa manusia berkembang dalam tahap psikososial, yang berbeda dari tahap psikoseksual perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sedangkan Freud beragumen bahwa kepribadian dasar manusia terbentuk selama 5 tahun pertama kehidupan.Kemajuan manusia dicapai melalui delapan tahap perkembangan yang berlangsung seumur hidup diantaranya:
1.  Kepercayaan versus ketidakpercayaan (trust versus mistrust) adalah tahap pertama dari perkembangan psikososial, yang dialami dalam satu pertama dari kehidupan sesorang. Perasaan percaya menuntut adanya perasaan nyaman secara fisik dan setidaknya perasaan takut dan ragu-ragu terhadap masa depan.
2.      Otonomi versus rasa malu dan keragu-raguan (autonomy versus shame and doubt) adalah tahap perkembangan kedua yang terjadi pada akhir masa bayi dan “toddler” (usia 1-3 tahun).
3. Prakarsa versus rasa bersalah (intiative versus guilt), tahap ini berlangsung selama masa prasekolah (usia 3-5 tahun).
4.   Tekun versus rasa rendah diri (industry versus inferiority), tahap ini berlangsung pada masa sekolah dasar (usia 6 tahun-usia pubertas).
5.  Identitas versus kebingungan identitas (identity versus confusion ), tahap ini berlangsung di masa remaja (usia 10-20 tahun) dimana individu dihadapkan pada tantangan untuk menemukan siapakah mereka itu, bagaimana mereka nantinya, dan arah mana yang hendak mereka tempuh dalam hidupnya. Remaja dihadapkan pada peran-peran baru dan status seorang dewasa –pekerjaan dan romantika.Remaja cenderung memilih suatu peran yang mereka sukai tanpa memikirkannya terlebih dahulu.Masa-masa ini memiliki peran yang sangat penting.Dimulai dari memilih secara acak, kemudian memikirkannya secara matang-matang dan pada akhirnya menjalaninya. Contohnya: orang tua sebaiknya mengizinkan mereka untuk menjajaki berbagai peran yang berbeda, maupun berbagai jalur yang terdapat dalam suatu peran tertentu.Misalnya seorang remaja ingin memilih menjadi seorang guru namun orang tua menginginkan anak tersebut menjadi seorang apoteker.Sebaiknya orang tua membiarkan anak tersebut memilih dan menjalani pilihannya karena anak itu sendirilah yang tahu kemampuan dirinya sendiri dan nantinya akan menjalaninya.Jika dipaksakan, maka anak itu akan merasa tertekan dan akan menjalaninya dengan sembarangan.Remaja memulai pencarian jati dirirnya dengan tahap coba-coba.
6.    Keintiman versus keterkucilan (intimacy versus isolation), adalah tahap masa dewasa awal (20-an sampai 30-an tahun).
7.   Bangkit versus stagnasi (generativity versus stagnation) adalah tahap masa dewasa menengah (usia 40-an sampai 50-an tahun)
8.   Integritas versus kekecewaan (integrity versus despair) adalah tahap masa dewasa akhir (usia 60 tahun keatas) (Santrock, 2012).

2.      Teori Kognitif

Dua teori yang penting adalah teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi. Piaget mengatakan bahwa remaja termotivasi untuk memahami dunia dan menyesuaikan berpikirnya untuk mendapat informasi baru. Piaget mengatakan bahwa kita melalui empat tahap perkembangan kognitif yaitu

Teori perkembangan kognitif Piaget

a.     Sensorimotorik
Tahap sensorimotor yang berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik oleh karena itulah istilahnya sensorimotor. Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki sedikit lebih banyak daripada pola-pola refleks. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiliki pola-pola sensorimotor yang kompleks dan mulai beroperasi dengan symbol-simbol primitif.
b.    Pra-operasional
Tahap praoperasional yang berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampui hubungan sederhana antara informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget mereka masih belum mampu untuk melaksanakan apa yang Piaget sebut “operasi” tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.
c.      Operasional konkret  
Tahap operasional konkret yang berlangsung kira-kira dari usia 7-11 tahun, merupakan tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini, anak-anak dapat melaksanakan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Misalnya, pemikir operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu persamaan aljabar, yang terlalu abstark untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
d.    Operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia 11 tahun dan terus berlanjut sampai15 tahun. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis dan nilai. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis kognitif penalaran moral perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
Pada tahap ini, remaja telah memilki kemampuan untuk berfikir sistematis, yaitu bisa memikirkan semua kemungkinan untuk memecahkan suatu persoalan. Contoh : ketika suatu saat mobil yang ditumpanginya mogok, maka jika penumpangnya adalah seorang anak yang masih dalam tahap operasi berfikir konket, ia akan berkesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya menghubungkan sebab akibat dari suatu rangkaian saja. Sebaiknya pada remaja yang berada pada tahap berfikir formal, ia akan memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok. Bisa jadi karena businya mati, atau karena platinannya, dll.

Teori Kognitif Sosio-budaya dari Vygotsky

Teori kognisi sosio-budaya yang menekankan bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan kognitif. Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, antensi, dan penalaran, mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat, seperti bahasa, sistematematika, dan strategi memori. Dalam suatu budaya, hal ini dapat meliputi kegiatan belajar berhitung dengan bantuan komputer. Di hari lainnya, individu juga dapat belajar berhitung dengan menggunakan tangannya atau manik-manik. Secara khusus vygotsky berpendapat bahwa interaksi anaka-anak dengan orang dewasa dan kawan-kawan sebaya yang lebih terampil tidak dapat dipisahkan untuk meningkatkan perkembangan kognitif mereka. Melalui interaksi ini, anggota yang kurang terampil dari suatu budaya belajar untuk menggunakan perangkat yang dapat membantu mereka untuk beradaptasi dan berhasil (Santrock, 2007).

Teori Pemrosesan Informasi

   Menekankan bahwa individu memanipulasi, memonitor, dan menyusun strategi terhadap informasi-informasi yang ditemui. Menurut teori ini, secara bertahap remaja mengembangkan kapasitas yang lebih besar untuk memproses informasi, dimana hal ini memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang kompleks. Teori pemrosesan informasi tidak mendeskripsikan perkembangan dalam tahap-tahap(Santrock, 2007).

        Robert Siegler (1998), menyatakan bahwa kegiatan berpikir merupakan suatu bentuk pemrosesan-informasi. Ketika individu menangkap, menuliskan sandi, menampilkan, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, mereka sebenarnya sedang berpikir. Siegler menekankan bahwa aspek penting dari perkembangan adalah mempelajari strategi-strategi yang baik untuk memproses informasi. Contohnya: menjadi pembaca yang lebih baik itu meliputi belajar memonitor tema-tema penting dari materi-materi yang dibaca.
            
3.      Teori Tingkah Laku dan Belajar Sosial

Teori-teori perilaku dan sosial kognitif menekanakan peranan pengalaman lingkungan dan perilaku yang teramati dalam memahami perkembangan remaja.

Behaviorisme Skinner
   Dalam perilaku menurut B.F. Skinner (1904-1990), pikiran, kesadaran atau ketidaksadaran, tidak dibutuhkan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan, jadi bagi skinner perkembangan adalah perilaku. Sebagai contoh, pengamatan terhadap Sam mengungkapkan bahwa perilakunya adalah malu, berorientasi pada prestasi, dan peduli. Menurut Skinner, hadiah dan hukuman yang telah diperoleh dari lingkungan, membentuk Sam untuk menjadi seorang yang pemalu, berorientasi pada prestasi, dan peduli. Karena interaksinya dengan para anggota keluarga, kawan, guru, dan orang lain. Bagi para behavioris, perilaku malu dapat ditransformasikan menjadi perilaku yang lebih berorientasi sosial; perilaku agresif dapat dibentuk menjadi perilaku jinak; perilaku lesu dan membosankan dapat diubah menjadi tingkah laku antusias dan menarik.

Teori Kognitif Sosial
   Teori kognitif sosial menyatakan bahwa perilaku, lingkungan, dan kognisi merupakan faktor-faktor penting dalam perkembangan. Albert Bandura menyatakan bahwa faktor perilaku, lingkungan dan pribadi/kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berfikir, dapat berinteraksi secara timbal-balik. Dengan demikian, dalam pandangan Bandura, lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
                                               

4.      Teori Kontekstual Ekologis

 Merupakan pendekatan lain yang menekankan pentingnya pengaruh lingkungan terhadap perkembangan. Dalam teori ekologis Bronfenbrenner, lima sistem lingkungan merupakan faktor penting
1.      Mikrosistem : Situasi dimana remaja hidup, meliputi keluarga, kawan-kawan sebaya, sekolah dan lingkungan sekitar. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling lansung antara remaja dengan agen-agen sosial. Misalnya dengan orangtua, kawan-kawan sebaya, dan guru. Dalam situasi ini remaja tidak dipandang sebagai penerima yang pasif namun sebagai seseorang yang membantu dalam membangun situasi.
2.   Mesosistem : Relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya adalah relasi antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman bersama kawan-kawan sebayanya. Anak-anak yang orang tuanya menolak mereka dapat mengalami kesulitan mengembangkan relasi positif dengan guru.
3.    Eksosistem : Situasi sosial di mana remaja tidak memilki peran aktif namun mempengaruhi pengalaman remaja. Sebagai contoh, pengalaman seorang ibu di tempat kerjanya menugkin dapat mempengaruhi relasinya dengan suaminya dan anak remajanya. Ibu tersebut mungking memperoleh promosi yang menuntutnya untuk lebih banyak berpergian, yang mungkin dapat meningkatkan konflik dengan suaminya dan mengubah pola interaksinya dengan anak. Contoh lain dari ekosistem adalah pemerintah kota, yang bertanggung jwab terhadap kualitas taman, pusat rekreasi, dan fasilitas perpustakaan bagi anak-anak dan remaja.
4.      Makrosistem : Budaya di mana remaja hidup. Budaya (culture) merujuk pada pola-pola perilaku, keyakinan, dan semua produk dari sekelompok manusia yang diteruskan dari generasi ke generasi. Studi lintas-budaya, perbandingan antara budaya yang satu dengan budaya lain yang memberikan informasi mengenai generalitas perkembangan.
5.  Kronosistem : Pola dari peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi dari rangkaian kehidupan dan keadaan sosio-historis. Sebagai contoh, dalam studi mengenai dampak perceraian terhadap anak-anak, peneliti menemukan bahwa dampak-dampak negatif tersebut sering kali memuncak di tahun pertama setelah perceraian. Dampak negatif yang lebih besar dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Dua tahun setelah perceraian, interaksi keluarga tidak begitu kacau lagi dan lebih stabil. Berkaitan dengan lingkungan sosio-budaya, remaja perempuan jaman sekarang lebih terdorong untuk mengejar karir dibandingkan 20 atau 30 tahun yang lalu (Santrock, 2007).

5.      Orientasi Teoritis Eklektik

Orientasi teoritis eklektik tidak mengikuti sebuah pendekatan teori manapun, namun memilih dan menggunakan segi-segi yang dianggap paling baik dari masing-masing teori. Melalui pandangan seperti ini, tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan remaja. Masing-masing teori telah memberikan sumbangan yang berbeda, dan mungkin strategi yang bijaksana adalah untuk mengambil perspektif teoritis yang eklektif dalam usaha kita memahami perkembangan remaja.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan

  Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti dimana semua aspek perkembangan saling mempengaruhi satu sama lain. Prinsip-prinsip itu meliputi manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya,setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi,perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu,setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya,perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda dan dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan : bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua.
Teori perkembangan remaja terdiri dari teori psikoanalisis yang ditemukan oleh Freud juga Erickson, teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky, teori tingkah laku dan belajar sosial yang dikemukakan Skinner, teori ekologis oleh Bronfenbrennerdan orientasi teoritis eklektik yang hanya tidak mengikuti sebuah pendekatan teori manapun.


B.       Saran

  Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari masih ada kekurangannya. Jadi kami menyarankan agar pembaca makalah ini membaca referensi dari buku-buku lain untuk melengkapi atau menambah pengetahuannya dalam bidang psikologi remaja ini.


Daftar Pustaka

Santrock, John W. 2003. Perkembangan Remaja Edisi Keenam . Jakarta: PT Gelora
Aksara Pratama.

Santrock, John W. 2007. Remaja Edisi 11 Jilid 1. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Santrock, John W. 2012. Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas
Jilid 1. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Yusuf, Syamsu.2010. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung: PT Remaja Rosdahkarya Offset.










No comments:

Post a Comment

Anda sopan kami segan