MAKALAH
Prinsip Perkembangan dan Teori Perkembangan Remaja
Disusun
Sebagai Pelaksanaan Tugas
Mata Kuliah Psikologi Remaja Ampuan Maulita Eka
Santi, S.Pd.,M.A
Oleh :
1. Patricia
Dita Y (141434006)
2. Maria
Magdalena N (141434030)
3. Fransiska
Agri M (141434039)
4. Febriani
E Malo (141434076)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat serta
wawasan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Psikologi Remaja yang berjudul “Prinsip Perkembangan dan
Teori Perkembangan Remaja”. Di dalam makalah ini ditulis berbagai informasi
mengenai apa saja itu prinsip perkembangan dan teori perkembangan remaja.
Dalam
menyusun makalah ini penulis mengucapakan terima kasih kepada pihak-pihak yang
sudah membantu serta memberikan semangat kepada penulis sehingga makalah ini
dapat terselesaikan :
1. Dosen
pembimbing, Maulita Eka Santi, S.Pd.,M.A.,yang memberikan pengetahuan serta
arahan dalam penyusunan makalah
2. Teman-teman
pendidikan biologi 2014
3. Dan
semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
Penulis
menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena itu saran dan kritik
yang membangun dari rekan-rekan pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
makalah ini.
Yogyakarta,
9 September 2015
Penulis
DAFTAR ISI
PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah .................................................................................. 1
C. Tujuan .................................................................................................... 2
D. Manfaat................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip
perkembangan................................................................. 3
B. Teori
perkembangan ............................................................................... 5
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan............................ ......................................... ...............................................................13
B. Saran.............................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja
adalah masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan dewasa yang
mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial. Perkembangan remaja bersifat
kompleks dan mempunyai banyak sisi.
Banyak pakar yag merumuskan pengertian perkembangan yaitu suatu proses
perubahan dalam diri individu yang bersifat kualitatif. Sama halnya dengan
konsep perkembangan, maka pertumbuhan pun dibahas oleh banyak pakar.
Ciri – ciri remaja yang sedang berkembang cenderung
digambarkan sebagai pemunculan tingkah laku yang negatif, seperti suka melawan,
gelisah, periode badai dan tekanan, tidak stabil dan berbagai label buruk
lainnya. Pada periode remaja situasi psikologis, fisiologis, dan budaya makin
penting pengaruhnya terhadap perkembangan individu dibandingkan dengan
perkembangan individu sebelumnya (anak-anak) atau pada periode perkembangan
sesudahnya (dewasa). Terjadinya kegelisahan atau stres pada remaja karena
sambutan lingkungan yang kurang menyokong. Budaya yang kacau menimbulkan kekacauan
perkembangan emosi, sosial dan kognitif sehingga menimbulkan tingkah laku
amoral.
Remaja memperlihatkan tingkah laku negative karena
lingkungan yang tidak memperlakukan mereka sesuai dengan tuntutan atau
kebutuhan perkembangan mereka. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa
tingkah laku negatif bukan merupakan ciri perkembangan remaja yang normal,
tetapi remaja yang berkembang memperlihatkan kemampuan bertingkah laku yang
positif.
Banyak teori-teori mengenai perkembangan remaja.
Apabila ada yang beranggapan bahwa suatu teori itu dapat memberikan penjelasan
yang tepat mengenai perkembangan remaja, teori lain akan segera muncul untuk
memperbaiki teori sebelumnya.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari
makalah ini adalah :
1. Bagaimana
prinsip-prinsip perkembangan?
2. Apa saja
teori perkembangan remaja?
C.
Tujuan
Tujuan
dari makalahini untuk mendeskripsikan tentang :
1. Prinsip
perkembangan
2. Teori-teori
perkembangan remaja
D. Manfaat
Makalah
ini mempunyai manfaat yaitu agar mahasiwa lebih dapat memahami dan mengerti
secara mendalam mengenai teori-teori dari para tokoh-tokoh psikologi maupun
dari tokoh-tokoh filosof mengenai remaja dan dapat menerapkan teori-teori
tersebut dalam dirinya sendiri maupn orang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Prinsip
Perkembangan
1. Perkembangan
merupakan proses yang tidak pernah berhenti (Never ending process)
Manusia secara terus menerus
berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang
hidupnya. Perkembangan, baik fisik maupun psikis berlangsung secara terus
menerus sejak masa konsepsi sampai menjapai kematangan atau masa tua.Jadi
proses yang tidak pernah berhenti berarti perubahan maju, meningkat, mendalam
atau meluas, baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis),
contohnya terjadi perubahan pengetahuan dan kemampuan anaka dari yang sederhana
sampai kepada yang kompleks ( mulai dari mengenal huruf dan angka sampai kepada
kemampuan membaca, menulis dan berhitung).
2. Semua
aspek perkembangan saling mempengaruhi
Setiap aspek perkembangan individu,
baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling
mempengaruhi. Pada umumnya terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara
aspek-aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami
gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam
perkembangan aspek lainnya, seperti : kecerdasan dan emosinya. Begitu pula,
apabila perkembangan spiritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan
berkembang menjadi seorang yang berkarakter atau berkepribadian yang tidak
baik.
3. Perkembangan
itu mengikuti pola atau arah tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur
mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan
dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
Arah atau pola perkembangan pola
itu dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977) :
a. Cephalocaudal
& proximal- distal. Maksudnya, perkembangan manusia itu mulai dari kepala
ke kaki (cephalocaudal) dan dari tengah ; paru-paru, jantung, ke pinggir :
tangan (proximal-distal)
b. Struktur
mendahului fungsi artinya bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi
setelah matang strukturnya.
c. Perkembangan
itu berdiferensiasi maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus
(spesifik)
d. Perkembangan
itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses
dari suatu kemampuan berfikir yang konkret (objeknya tampak) menuju ke abstrak
(objeknya tidak tampak)
e. Perkembangan
itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektifme, berarti bahwa mulanya anak
hanya melihat atau memperhatikan dirinya sendiri sebagai pusat, tapi melalui
pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu
berubah menjadi perspektivis (anak memilki simpati terhadap kepentingan orang
lain)
f. Perkembangan
itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awalnya
anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh
pengontrolan dari luar seiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu
mengontrol diri.
4. Perkembangan
terjadi pada tempo yang berlainan
Perkembangan fisik dan mental
mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang
cepat dan ada yang lambat). Umpamanya (a) otak mencapai bentuk dan ukurannya
yang sempurna pada umur 6-8 tahun; (b) tangan, kaki, dan hidung mencapai
perkembangan yang maksimum pada masa remaja; dan (c) imajinasi kreatif
berkembangan dengan cepat pada masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada
masa remaja.
5. Setiap
fase perkembangan mempunyai ciri khas
Prinsip ini dapat dijelaskan dengan
contoh sebagi berikut :
a. Sampai
usia 2 tahun, anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, mengusai gerak
gerik fisik dan belajar berbicara
b. Pada
usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar
bergaul dengan orang lain).
6. Setiap
individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam
menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami
fase-fase perkembangan : bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua(Yusuf,
2010).
B.
Teori-Teori
Perkembangan Remaja
1.
Teori
Psikoanalisis
Menurut teori
psikoanalisis (psychoanalityc theory),
proses perkembangan berlangsung secara tidak disadari atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat di warnai oleh emosi.
Para ahli psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah merupakan
karakteristik di permukaan. Pemahaman sepenuhnya tentang perkembangan hanya
dapat dicapai melalui analisis terhadap makna-makna simbolis dari perilaku. Ada
dua teori psikoanalisis, yaitu
a.
Teori
Freud (1856-1939)
Mengembangkan teori
psikoanalisisnya berdasarkan pengalamannya dalam menangani kehidupan mental
pasien-pasiennya. Sigmund Freud mengumpamakan kehidupan psikis seseorang bak gunung
es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan
laut, adapun bagian terbesar dari gunung terbesar dari gunung ini tidak tampak,
karena terendam dalam laut. Kehidupan psiskis seseorang sebagian besar juga
tidak tampak (bagi diri mereka sendiri), dalam arti tidak disadari oleh yang
bersangkutan. Struktur kepribadian Freud (1917) menyatakan bahwa kepribadian
memiliki tiga struktur, yaitu id, ego dan superego.
Id terdiri dari insting, yang merupakan
persediaan energi psikis individu. Dalam pandangan Freud, id sepenuhnya tidak
disadari; id tidak memiliki kontak dengan realitas. Ketika anak-anak mengalami
berbagai tuntutan dan pembatasan realitas, muncul sebuah struktur baru dari
kepribadian –ego, yang menangani
tuntutan realitas. Ego disebut juga “cabang
eksekutif” dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional.
Id
dan ego tidak mempertimbangkan
moralitas keduanya tidak mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego adalah struktur kepribadian
yang mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego sering kali kita juluki sebagai “hati nurani”. Freud
berpendapat bahwa kehidupan remaja dipenuhi dengan ketegangan dan konflik. Remaja
berusaha meredakan ketegangan yang dialami dengan cara memendam konflik
tersebut kedalam pikiran yang tidak sadar.
Dalam
pandangan Freud, ego harus menyelesaikan konflik antara tuntutan realitas,
harapan id, dan pembatasan dari superego melalui mekanisme pertahanan. Ada dua
hal penting tentang mekanisme pertahanan, pertama mereka tidak disadari; remaja
tidak sadar bahwa mereka menggunakan mekanisme pertahanan untuk melindungi ego
mereka dan mengurangi rasa cemas. Kedua, jika digunakan secara moderat atau
sementara waktu, mekanisme pertahanan tidak berakibat negatif. Akan tetapi,
individu sebaiknya tidak membiarkan mekanisme pertahanan mendominasi tingkah
laku mereka dan mencegah mereka menghadapi tuntutan realitas.
Ketika
Freud mendengarkan, menggali dan menganalisis pasien-pasiennya, ia menjadi
yakin bahwa masalah mereka bersumber dari pengalaman-pengalaman di masa awal
kehidupan. Menurut Freud manusia akan melalui lima tahap permulaan dari
perkembangan psikoseksual dan di setiap tahap perkembangan individu memperoleh
kenikmatan di suatu bagian tubuh tertentu.
o Tahap
oral (oral stage) adalah perkembangan
yang terjadi pada usia 18 bulan pertama, dimana kesenangan bayi berpusat di
sekitar mulut.
o Tahap
anal (anal stage) adalah tahap
perkembangan yang terjadi antara usia 1,5 dan 3 tahun, di mana kesenangan
terbesar anak meliputi anus atau fungsi pembuangan yang berhubungan dengan
anus.
o Tahap
falik (phallic stage) adalah tahap
perkembangan yang terjadi antara usia 3 sampai 6 tahun,
kata phallus artinya penis atau alat kelamin laki-laki. Artinya
kesenangan berpusat pada alat kelamin karena anak menemukan bahwa memanipulasi
diri sendiri memberikan kesenangan.
o Tahap
latensi (latency stage) adalah tahap
perkembangan yang terjadi antara usia 6 tahun dan pubertas, anak menekan semua
minat seksual da mengembangkan keterampilan inteletual dan social.
o Tahap
genital (genital stage) adalah tahap
perkembangan yang terjadi pada masa pubertas. Pada masa ini adalah masa
kebangkitan kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual yang adalah
dari orang lain yang bukan keluarganya (Santrock, 2007).
Revisi
terhadap teori Freud
Teori ini telah mengalami revisi yang penting dari sejumlah ahli teori
psikoanalisis. Dibandingkan dengan freud, sebagian besar ahli teori
psikoanalisis kontenporer kurang menekankan peranan insting seksual namun lebih
menekankan pada pengalaman budaya sebagai determinan- determinan dari
perkembangan. Meskipun pikiran-pikiran yang tidak disadari memainkan peranan
yang lebih besar dibandingkan yang digambarkan oleh Freud. Kaum feminis juga
mengajukan kritik terhadap teori Freud. Selanjutnya, kita akan menguraikan
gagasan-gagasan dari tokoh yang merevisi gagasan-gagasan Freud yaitu Erik
Erikson.
b.
Teori
Erikson (1902-1994)
Erikson
mengatakan bahwa manusia berkembang dalam tahap psikososial, yang berbeda dari
tahap psikoseksual perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sedangkan
Freud beragumen bahwa kepribadian dasar manusia terbentuk selama 5 tahun
pertama kehidupan.Kemajuan manusia dicapai melalui delapan tahap perkembangan yang
berlangsung seumur hidup diantaranya:
1. Kepercayaan
versus ketidakpercayaan (trust versus
mistrust) adalah tahap pertama dari perkembangan psikososial, yang dialami
dalam satu pertama dari kehidupan sesorang. Perasaan percaya menuntut adanya
perasaan nyaman secara fisik dan setidaknya perasaan takut dan ragu-ragu
terhadap masa depan.
2. Otonomi
versus rasa malu dan keragu-raguan (autonomy
versus shame and doubt) adalah tahap perkembangan kedua yang terjadi pada
akhir masa bayi dan “toddler” (usia 1-3 tahun).
3. Prakarsa
versus rasa bersalah (intiative versus
guilt), tahap ini berlangsung selama masa prasekolah (usia 3-5 tahun).
4. Tekun
versus rasa rendah diri (industry versus inferiority),
tahap ini berlangsung pada masa sekolah dasar (usia 6 tahun-usia pubertas).
5. Identitas
versus kebingungan identitas (identity
versus confusion ), tahap ini berlangsung di masa remaja (usia 10-20 tahun)
dimana individu dihadapkan pada tantangan untuk menemukan siapakah mereka itu,
bagaimana mereka nantinya, dan arah mana yang hendak mereka tempuh dalam
hidupnya. Remaja dihadapkan pada peran-peran baru dan status seorang dewasa
–pekerjaan dan romantika.Remaja cenderung memilih suatu peran yang mereka sukai
tanpa memikirkannya terlebih dahulu.Masa-masa ini memiliki peran yang sangat
penting.Dimulai dari memilih secara acak, kemudian memikirkannya secara
matang-matang dan pada akhirnya menjalaninya. Contohnya: orang tua sebaiknya
mengizinkan mereka untuk menjajaki berbagai peran yang berbeda, maupun berbagai
jalur yang terdapat dalam suatu peran tertentu.Misalnya seorang remaja ingin
memilih menjadi seorang guru namun orang tua menginginkan anak tersebut menjadi
seorang apoteker.Sebaiknya orang tua membiarkan anak tersebut memilih dan
menjalani pilihannya karena anak itu sendirilah yang tahu kemampuan dirinya
sendiri dan nantinya akan menjalaninya.Jika dipaksakan, maka anak itu akan
merasa tertekan dan akan menjalaninya dengan sembarangan.Remaja memulai
pencarian jati dirirnya dengan tahap coba-coba.
6. Keintiman
versus keterkucilan (intimacy versus
isolation), adalah tahap masa dewasa awal (20-an sampai 30-an tahun).
7. Bangkit
versus stagnasi (generativity versus
stagnation) adalah tahap masa dewasa menengah (usia 40-an sampai 50-an
tahun)
8. Integritas
versus kekecewaan (integrity versus
despair) adalah tahap masa dewasa akhir (usia 60 tahun keatas) (Santrock,
2012).
2.
Teori
Kognitif
Dua teori yang penting adalah
teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi. Piaget
mengatakan bahwa remaja termotivasi untuk memahami dunia dan menyesuaikan
berpikirnya untuk mendapat informasi baru. Piaget mengatakan bahwa kita melalui
empat tahap perkembangan kognitif yaitu
Teori
perkembangan kognitif Piaget
a.
Sensorimotorik
Tahap
sensorimotor yang berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun, merupakan
tahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang
dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat
dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik oleh karena itulah
istilahnya sensorimotor. Pada
permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki sedikit lebih banyak
daripada pola-pola refleks. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiliki
pola-pola sensorimotor yang kompleks dan mulai beroperasi dengan symbol-simbol
primitif.
b.
Pra-operasional
Tahap
praoperasional yang berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan
tahap kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan
kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampui hubungan sederhana
antara informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak
prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget mereka masih
belum mampu untuk melaksanakan apa yang Piaget sebut “operasi” tindakan mental
yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa
yang sebelumnya dilakukan secara fisik.
c.
Operasional konkret
Tahap
operasional konkret yang berlangsung kira-kira dari usia 7-11 tahun, merupakan
tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini, anak-anak dapat melaksanakan operasi, dan
penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat
diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Misalnya, pemikir
operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan
untuk menyelesaikan suatu persamaan aljabar, yang terlalu abstark untuk
dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
d.
Operasional formal
Tahap operasional formal adalah
periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai
dialami anak dalam usia 11 tahun dan terus berlanjut sampai15 tahun.
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berfikir secara
abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang
tersedia. Dalam tahapan ini, seorang dapat memahami hal-hal seperti cinta,
bukti logis dan nilai. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat
pubertas (saat terjadi perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia
dewasa secara fisiologis kognitif penalaran moral perkembangan psikoseksual,
dan perkembangan sosial.
Pada tahap ini, remaja telah
memilki kemampuan untuk berfikir sistematis, yaitu bisa memikirkan semua
kemungkinan untuk memecahkan suatu persoalan. Contoh : ketika suatu saat mobil
yang ditumpanginya mogok, maka jika penumpangnya adalah seorang anak yang masih
dalam tahap operasi berfikir konket, ia akan berkesimpulan bahwa bensinnya
habis. Ia hanya menghubungkan sebab akibat dari suatu rangkaian saja. Sebaiknya
pada remaja yang berada pada tahap berfikir formal, ia akan memikirkan beberapa
kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok. Bisa jadi karena businya mati,
atau karena platinannya, dll.
Teori
Kognitif Sosio-budaya dari Vygotsky
Teori kognisi sosio-budaya yang
menekankan bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan
kognitif. Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, antensi, dan penalaran,
mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat,
seperti bahasa, sistematematika, dan strategi memori. Dalam suatu budaya, hal
ini dapat meliputi kegiatan belajar berhitung dengan bantuan komputer. Di hari
lainnya, individu juga dapat belajar berhitung dengan menggunakan tangannya
atau manik-manik. Secara khusus vygotsky berpendapat bahwa interaksi anaka-anak
dengan orang dewasa dan kawan-kawan sebaya yang lebih terampil tidak dapat
dipisahkan untuk meningkatkan perkembangan kognitif mereka. Melalui interaksi
ini, anggota yang kurang terampil dari suatu budaya belajar untuk menggunakan
perangkat yang dapat membantu mereka untuk beradaptasi dan berhasil (Santrock,
2007).
Teori
Pemrosesan Informasi
Menekankan bahwa
individu memanipulasi, memonitor, dan menyusun strategi terhadap
informasi-informasi yang ditemui. Menurut teori ini, secara bertahap remaja
mengembangkan kapasitas yang lebih besar untuk memproses informasi, dimana hal
ini memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang
kompleks. Teori pemrosesan informasi tidak mendeskripsikan perkembangan dalam
tahap-tahap(Santrock, 2007).
Robert
Siegler (1998), menyatakan bahwa kegiatan berpikir merupakan suatu bentuk
pemrosesan-informasi. Ketika individu menangkap, menuliskan sandi, menampilkan,
menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, mereka sebenarnya sedang
berpikir. Siegler menekankan bahwa aspek penting dari perkembangan adalah
mempelajari strategi-strategi yang baik untuk memproses informasi. Contohnya:
menjadi pembaca yang lebih baik itu meliputi belajar memonitor tema-tema
penting dari materi-materi yang dibaca.
3.
Teori
Tingkah Laku dan Belajar Sosial
Teori-teori perilaku
dan sosial kognitif menekanakan peranan pengalaman lingkungan dan perilaku yang
teramati dalam memahami perkembangan remaja.
Behaviorisme
Skinner
Dalam perilaku menurut B.F. Skinner
(1904-1990), pikiran, kesadaran atau ketidaksadaran, tidak dibutuhkan untuk
menjelaskan perilaku dan perkembangan, jadi bagi skinner perkembangan adalah
perilaku. Sebagai contoh, pengamatan terhadap Sam mengungkapkan bahwa
perilakunya adalah malu, berorientasi pada prestasi, dan peduli. Menurut
Skinner, hadiah dan hukuman yang telah diperoleh dari lingkungan, membentuk Sam
untuk menjadi seorang yang pemalu, berorientasi pada prestasi, dan peduli.
Karena interaksinya dengan para anggota keluarga, kawan, guru, dan orang lain.
Bagi para behavioris, perilaku malu dapat ditransformasikan menjadi perilaku
yang lebih berorientasi sosial; perilaku agresif dapat dibentuk menjadi
perilaku jinak; perilaku lesu dan membosankan dapat diubah menjadi tingkah laku
antusias dan menarik.
Teori
Kognitif Sosial
Teori kognitif sosial menyatakan
bahwa perilaku, lingkungan, dan kognisi merupakan faktor-faktor penting dalam
perkembangan. Albert Bandura menyatakan bahwa faktor perilaku, lingkungan dan
pribadi/kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berfikir, dapat
berinteraksi secara timbal-balik. Dengan demikian, dalam pandangan Bandura,
lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
4.
Teori
Kontekstual Ekologis
Merupakan
pendekatan lain yang menekankan pentingnya pengaruh lingkungan terhadap
perkembangan. Dalam teori ekologis Bronfenbrenner, lima sistem lingkungan
merupakan faktor penting
1. Mikrosistem
: Situasi dimana remaja hidup, meliputi keluarga, kawan-kawan sebaya, sekolah
dan lingkungan sekitar. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling
lansung antara remaja dengan agen-agen sosial. Misalnya dengan orangtua,
kawan-kawan sebaya, dan guru. Dalam situasi ini remaja tidak dipandang sebagai
penerima yang pasif namun sebagai seseorang yang membantu dalam membangun
situasi.
2. Mesosistem
: Relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya adalah relasi antara
pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan
pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman bersama
kawan-kawan sebayanya. Anak-anak yang orang tuanya menolak mereka dapat
mengalami kesulitan mengembangkan relasi positif dengan guru.
3. Eksosistem
: Situasi sosial di mana remaja tidak memilki peran aktif namun mempengaruhi
pengalaman remaja. Sebagai contoh, pengalaman seorang ibu di tempat kerjanya
menugkin dapat mempengaruhi relasinya dengan suaminya dan anak remajanya. Ibu
tersebut mungking memperoleh promosi yang menuntutnya untuk lebih banyak
berpergian, yang mungkin dapat meningkatkan konflik dengan suaminya dan
mengubah pola interaksinya dengan anak. Contoh lain dari ekosistem adalah
pemerintah kota, yang bertanggung jwab terhadap kualitas taman, pusat rekreasi,
dan fasilitas perpustakaan bagi anak-anak dan remaja.
4. Makrosistem
: Budaya di mana remaja hidup. Budaya (culture) merujuk pada pola-pola
perilaku, keyakinan, dan semua produk dari sekelompok manusia yang diteruskan
dari generasi ke generasi. Studi lintas-budaya, perbandingan antara budaya yang
satu dengan budaya lain yang memberikan informasi mengenai generalitas
perkembangan.
5. Kronosistem
: Pola dari peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi dari rangkaian
kehidupan dan keadaan sosio-historis. Sebagai contoh, dalam studi mengenai
dampak perceraian terhadap anak-anak, peneliti menemukan bahwa dampak-dampak
negatif tersebut sering kali memuncak di tahun pertama setelah perceraian.
Dampak negatif yang lebih besar dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan
anak perempuan. Dua tahun setelah perceraian, interaksi keluarga tidak begitu kacau
lagi dan lebih stabil. Berkaitan dengan lingkungan sosio-budaya, remaja
perempuan jaman sekarang lebih terdorong untuk mengejar karir dibandingkan 20
atau 30 tahun yang lalu (Santrock, 2007).
5.
Orientasi
Teoritis Eklektik
Orientasi teoritis
eklektik tidak mengikuti sebuah pendekatan teori manapun, namun memilih dan
menggunakan segi-segi yang dianggap paling baik dari masing-masing teori.
Melalui pandangan seperti ini, tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan
kompleksitas perkembangan remaja. Masing-masing teori telah memberikan
sumbangan yang berbeda, dan mungkin strategi yang bijaksana adalah untuk
mengambil perspektif teoritis yang eklektif dalam usaha kita memahami
perkembangan remaja.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan merupakan
proses yang tidak pernah berhenti dimana semua aspek perkembangan saling
mempengaruhi satu sama lain. Prinsip-prinsip itu meliputi manusia secara terus
menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar
sepanjang hidupnya,setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi,
intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi,perkembangan
terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu,setiap tahap
perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan
prasyarat bagi perkembangan selanjutnya,perkembangan fisik dan mental mencapai
kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda dan dalam menjalani
hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase
perkembangan : bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa, dan masa tua.
Teori perkembangan
remaja terdiri dari teori psikoanalisis yang ditemukan oleh Freud juga Erickson,
teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky, teori tingkah laku
dan belajar sosial yang dikemukakan Skinner, teori ekologis oleh
Bronfenbrennerdan orientasi teoritis eklektik yang hanya tidak mengikuti sebuah
pendekatan teori manapun.
B.
Saran
Dalam menyusun makalah
ini, kami menyadari masih ada kekurangannya. Jadi kami menyarankan agar pembaca
makalah ini membaca referensi dari buku-buku lain untuk melengkapi atau
menambah pengetahuannya dalam bidang psikologi remaja ini.
Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2003. Perkembangan Remaja Edisi Keenam . Jakarta: PT Gelora
Aksara
Pratama.
Santrock, John W. 2007. Remaja Edisi 11 Jilid 1. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Santrock, John W. 2012. Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas
Jilid 1. Jakarta: PT
Gelora Aksara Pratama.
Yusuf, Syamsu.2010. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung:
PT Remaja Rosdahkarya Offset.

No comments:
Post a Comment
Anda sopan kami segan